Selain neraca perdagangan, perkembangan ekspor nasional turut menjadi perhatian pemerintah. Airlangga menyebut kinerja ekspor Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif. Peningkatan ekspor berperan dalam memperkuat penerimaan devisa dan mendukung aktivitas sektor produksi di dalam negeri. Ketika permintaan terhadap produk nasional tetap terjaga, kegiatan industri dan rantai pasok juga berpeluang berkembang.
Dari sisi stabilitas harga, pemerintah juga mencermati perkembangan inflasi sebagai salah satu indikator penting daya tahan ekonomi. Airlangga menyampaikan bahwa inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), serta 0,22 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm). Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date (ytd) mencapai 2,4 persen. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi harga barang dan jasa yang terus dipantau pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Pengendalian inflasi memiliki keterkaitan erat dengan stabilitas perekonomian dan kepercayaan masyarakat. Kenaikan harga yang terkendali dapat membantu rumah tangga mengelola pengeluaran, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun rencana produksi dan investasi. Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga kelancaran distribusi barang, ketersediaan pasokan, serta koordinasi pengendalian harga di tingkat pusat dan daerah. Langkah tersebut penting agar tekanan harga tidak berkembang menjadi beban yang lebih besar bagi masyarakat.
