Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota menyampaikan filosofi yang menggugah tentang peran komunitas dalam kehidupan sosial. Ia mengibaratkan organisasi sebagai kapal yang tidak diciptakan untuk berdiam di dermaga, tetapi untuk berlayar menghadapi gelombang.
“Kapal itu indah saat di dermaga, tapi fungsinya bukan untuk diam. Kapal dibuat untuk berlayar, menghadapi ombak dan gelombang. Begitu juga organisasi, harus hadir dan berdampak nyata bagi lingkungan,” tegasnya.
Ia berharap arisan PSMTI tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi menjadi ruang lahirnya ide dan gagasan untuk bersama-sama membangun Kota Kupang.
Lebih lanjut, Wali Kota juga mengajak PSMTI untuk terlibat aktif dalam berbagai agenda kota, termasuk rencana karnaval budaya dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Kupang.
Ia mendorong partisipasi komunitas Tionghoa untuk menampilkan kekayaan budaya sebagai bagian dari mozaik keberagaman kota.
“Kalau kita mau berjalan cepat, kita bisa sendiri. Tapi kalau mau berjalan jauh, kita harus berjalan bersama. Saya tidak bisa membangun kota ini sendirian, saya butuh dukungan semua pihak,” ungkapnya.
Di akhir sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga harmoni dalam keberagaman. Menurutnya, harmoni bukan berarti keseragaman, melainkan keseimbangan dalam perbedaan. “Harmoni itu bukan sama, tapi seimbang. Seperti nada dalam lagu atau warna dalam lukisan, berbeda-beda tetapi menghasilkan keindahan,” tuturnya.




