dr. Christian menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang bersifat sementara. Karena itu, yang harus ditinggalkan bukan sekadar nama atau figur, melainkan sistem pemerintahan dan tata kelola yang dapat terus bekerja setelah kepemimpinan berganti.
“Saya ingin meninggalkan legasi sistem pemerintahan yang baik, saya ingin meninggalkan sistem tata kelola manajemen ASN yang baik,” ungkapnya.
Dalam diskusi bersama forum IMM, Wali Kota menjelaskan dalam kondisi fiskal daerah yang terbatas, pemerintah harus mampu menetapkan prioritas dan menggunakan anggaran secara bijak.
Pembangunan tidak cukup mengejar biaya murah, tetapi harus memperhitungkan kualitas, manfaat dan keberlanjutan. “Caranya adalah berhemat dan menggunakan anggaran dengan bijak,” jelasnya.
Ia juga menyinggung respons Pemerintah Kota Kupang terhadap bencana gempa di Flores. Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam situasi kemanusiaan bukan sekadar soal bantuan, tetapi bentuk solidaritas sebagai sesama warga NTT.
Pemerintah Kota Kupang juga memberikan perhatian kepada mahasiswa asal Flores di Kota Kupang yang keluarganya terdampak bencana. “Wilayah itu memiliki batas, lokasi bencana juga punya batas. Tetapi kemanusiaan tidak memiliki batas,” tegasnya.





