Menurut dr. Chris, nama “Beta Bersih” memiliki makna mendalam. Kata “beta” berarti saya, sebuah filosofi bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. “Bukan tunggu pemerintah, bukan tunggu orang lain. Mulai dari beta. Kalau kita mau maju, semua harus dimulai dari diri sendiri,” katanya.
Ia menegaskan, lomba ini bukan semata mencari kelurahan terbersih, melainkan membangun kesadaran kolektif. “Ini bukan tentang siapa yang paling bersih, tapi siapa yang paling peduli. Bukan mengejar piala, tetapi membangun budaya. Kita ubah kalimat ‘itu bukan tugas saya’ menjadi ‘ini beta punya tanggung jawab’,” tandasnya.
Wali Kota juga meminta tim juri dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) untuk menilai secara objektif dan adil.
Ketua Satgas Lomba Komunitas Beta Bersih, Irsan Dardana, menjelaskan bahwa komunitas ini lahir dari keresahan melihat persoalan sampah yang menumpuk di berbagai sudut kota usai pelantikan Wali Kota pada Februari 2025.
“Kami sadar kebersihan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga warga yang memproduksi sampah itu sendiri. Kami rindu Kota Kupang yang bersih,” ujarnya. Ia mengapresiasi langkah cepat pemerintah membentuk Satgas Penanganan Sampah, menyusun roadmap, hingga memastikan petugas tetap bekerja di hari libur.
