Ia juga meminta tim memanfaatkan ruang kreasi yang tersedia dalam perlombaan untuk menyampaikan pesan kebangsaan yang kuat.
Berdasarkan petunjuk teknis perlombaan, sekitar 80 persen penilaian diperuntukkan bagi gerakan baris-berbaris murni (PDP 96), sedangkan 20 persen sisanya diberikan untuk variasi dan kreasi pada bagian penutup. Pada bagian inilah, Gubernur meminta kontingen memasukkan narasi sejarah NTT, khususnya keterkaitan Ende dengan proses lahirnya Pancasila.
“Saya minta dimasukkan pesan khusus dalam variasi gerakan maupun yel-yel kalian. Sampaikan bahwa NTT memiliki bagian penting dalam sejarah lahirnya Pancasila ketika Bung Karno diasingkan di Ende,” ujar Melki.
Menurutnya, pesan tersebut dapat menjadi kekuatan pembeda kontingen NTT ketika tampil di hadapan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
“Nilai Pancasila adalah fondasi berbangsa yang sangat mahal. Tampilkan dengan bangga agar seluruh Indonesia tahu bahwa kontingen NTT membawa narasi kebangsaan yang kuat.
Di samping itu, masukkan juga unsur lokal seperti rumah adat dan kebudayaan NTT,” katanya.
Arahan tersebut langsung mendapat respons dari tim pelatih. Serda Marinir Valentino Malo Mabe mengatakan pihaknya akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk memperkuat dua aspek utama yang ditekankan Gubernur, yakni ketepatan gerakan baris-berbaris dan kekuatan kreasi pada bagian penutup.
