Dampak program ini juga dirasakan secara luas oleh masyarakat. Hingga kini, lebih dari 30 juta jiwa telah menjadi penerima manfaat MBG, mencakup anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Mereka kini mendapatkan akses makanan sehat yang disiapkan dengan standar gizi seimbang setiap hari. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah membangun generasi muda yang cerdas dan produktif.
Lebih dari sekadar meningkatkan gizi masyarakat, MBG juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. Data BGN menunjukkan adanya 9.406 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah, menciptakan lebih dari 337 ribu lapangan kerja baru. Petani, peternak, nelayan, hingga tenaga penyaji makanan kini ikut berperan aktif dalam rantai pasok program ini. Presiden Prabowo bahkan memperkirakan jumlah lapangan kerja baru dari MBG bisa mencapai 1,5 juta pada awal 2026. Ini menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi strategi ekonomi yang mampu menggerakkan sektor riil hingga ke desa-desa.
Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza Damanik, menjelaskan bahwa dari total anggaran MBG, sekitar 85 persen dialokasikan untuk pembelian bahan baku lokal. Hingga kini, lebih dari 6.400 UMKM telah bergabung dalam rantai pasok MBG, mulai dari petani sayur, nelayan, hingga pengusaha katering daerah. Pemerintah menargetkan setiap dapur MBG dapat menggunakan minimal 60 persen bahan baku dari produk UMKM lokal. Langkah ini bukan hanya memperkuat ekonomi desa, tetapi juga menjamin keberlanjutan rantai pasok dan pemerataan ekonomi nasional.
