Pada kesempatan yang baik itu, Hilarius menyampaikan maksud dan tujuan atas kunjungan ini, bahwa setiap parpol Bawaslu akan menyampaikan hal sama terkait dengan persiapan parpol menanti pemilihan umum (pemilu) di tahun 2029 yang akan datang.
“Inilah bentuk kolaborasi Bawaslu dan parpol. Kita juga akan terus memastikan demi mencegah para pemilih pemula yang sudah memiliki hak untuk menentukan hak pilih mereka kepada setiap calon yang ada,” ujar Hila
Hilarius mengatakan, cegah sejak dini itu adalah bagian dari merawat demokrasi Indonesia ini lebih sehat. Tentunya parpol lebih mengetahui bagaimana mempersiapkan setiap calon kader yang ingin bergabung dan terlibat politik praktis pada momentum pemilu 2029 yang akan datang.
Pada kesempatan itu, ia juga menyinggung soal data nama pemilih yang berhak ikut coblos namun tidak mengetahui keberadaan orang yang punya hak pilih itu dimana, ketakutannya adalah terjadi potensi pencoblosan ganda.
Ini perlu disikapi sejak dini, untuk itu, lanjutnya, harus ada regulasi yang lebih kuat dalam pendataan untuk menjangkau para pemilih pemula bahkan partisipan yang ingin memberikan hak suara mereka.
“Ada nama pemilih yang tak dikenal dan tidak diketahui keberadaannya, setelah kita cek ada sekitar 610 peserta pemilih nama ada tapi orangnya tidak ada. Mungkin saja orang yang terdata ini sudah meninggal dunia atau memang pergi merantau dan sudah menetap di daerah lain. Ini juga butuh kolaborasi dan dukung bersama dari parpol,” ujar Hilarius.




