Menurutnya, ibadah haji merupakan perjalanan yang membutuhkan kesiapan menyeluruh. Bukan hanya kemampuan memahami tata cara ibadah, tetapi juga kesiapan spiritual, kesehatan, mental dan pengetahuan.
Karena itu, pembinaan yang dimulai sejak awal dinilai akan membantu calon jamaah menghadapi setiap tahapan perjalanan haji dengan lebih tenang dan percaya diri.
“Kegiatan yang kita laksanakan hari ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat semangat kebersamaan di antara para calon jamaah haji, para alumni haji serta seluruh elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap penyelenggaraan ibadah haji,” katanya.
Konsep napak tilas yang menjadi bagian dari kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Calon jamaah diajak belajar dari pengalaman mereka yang telah lebih dahulu menunaikan ibadah haji. Pengalaman para alumni diharapkan tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi pengetahuan praktis bagi calon jamaah dalam mempersiapkan diri menghadapi perjalanan spiritual ke Tanah Suci.
Pemerintah Kota Kupang juga menilai pembinaan kehidupan keagamaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan daerah. Pembangunan, kata Hengky, tidak semata-mata berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut kualitas manusia yang beriman, berakhlak dan memiliki kepedulian sosial.
